THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES
Yang benar saja? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang
seperti dia! Kalau saja aku dapat menentukan jalan hidupku, aku lebih baik
bersama dengannya. Walau harapanku ini mustahil, tapi aku ingin untuk tidak
mencintai orang itu. Dia bukanlah pria yang baik. Aku menyesal karena aku
terlalu bodoh dan terbuai sikap lembutnya.
Pada awalnya aku kira dia hanya bersikap seperti itu kepada diriku, tetapi aku
salah. Dia memperlakukan semua perempuan sama seperti aku. Aku sungguh tidak
terima. Aku ingin pergi sejauh mungkin supaya aku tidak dapat melihat wajahnya
yang memuakkan itu. Tetapi kenyataan berkehendak lain, kini aku justru satu
kelas dengan pria itu.
“Keiko, ayo aku antar kan kau pulang.” Ucapnya yang berdiri dihadapanku.
Segera ku masukan semua buku yang ada diatas meja dan bergegas untuk pulang.
“maaf, aku ada urusan. Kau pulang sendiri saja.” Kataku ketus. Lalu aku
meninggalkan Souta dikelas sendiri. Namun ia mengejarku dan menarik pergelangan
tanganku.
“Keiko, ada apa denganmu?! Kenapa kau begitu berubah terhadapku?! Katakan
padaku apa yang mengganjal dihatimu!” perkataan Souta benar-benar membuatku
ingin meledak. Berani sekali dia bertanya seperti itu padaku setelah ia berpacaran
dengan sahabatku lalu ia meninggalkannya hanya dalam waktu 1 bulan. Karena dia,
sahabatku Miruka sampai pindah sekolah dan sekarang aku tidak punya
siapa-siapa.
Aku menatap lurus matanya penuh dengan kekesalan. “jangan pernah kau tunjukan
wajahmu dihadapanku Sou.”
***
Aku tau aku telah bersikap keterlaluan kepadanya. Tapi inilah yang bisa
kulakuan untuk mengubur perasaanku terhadapnya. Aku tidak ingin berakhir
seperti Miruka. Aku masih ingat betul saat itu. Malam hari saat aku sedang
belajar untuk ulangan Fisika tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata Miruka
yang datang kerumahku. Aku mengajaknya masuk tetapi ia tidak mau. Ia tidak
mendengarkan ucapanku. Badannya basah kuyup dan wajahnya pucat, bibirnya pun
membiru karna kedinginan. Ia menerjang hujan lebat sampai seperti ini. Sekali
lagi aku mengajaknya untuk masuk kedalam, tetapi ia menolaknya mentah-mentah.
Miruka justru menepis tanganku yang berusaha membantunya untuk berdiri.
“kenapa...kenapa Keiko, kenapa ini terjadi kepadaku??!!!” serunya penuh dengan
tatapan yang berlinang air mata. Aku tidak mengerti maksud sahabatku itu.
Tiba-tiba ia datang dan menyalahkanku, seolah aku telah melukai perasaannya.
“apa maksudmu Miruka? Aku tidak mengerti. Masuklah dulu, biar kau jelaskan
semuanya. Kalau tidak, kau akan jatuh sakit.” Aku mengajaknya untuk masuk tapi
ia tetap tidak mau. Ia sungguh membuatku penasaran akan apa yang terjadi.
“maaf Keiko, aku rasa...aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu.” Setelah
mengucapkan itu lalu ia pergi. Ia berlari menjauh. Sampai aku tak dapat lagi
melihatnya.
Sampai detik ini aku belum mengetahui maksud perkataan Miruka. Keesokan harinya
ia sudah pindah sekolah dan aku melihat Souta bersama dengan perempuan lain.
Walaupun aku menyukainya, tapi aku tidak terima kalau ia menyakiti hati Miruka.
Aku yang tadinya berteman akrab dengan Souta perlahan mulai menjauhinya dan
beruntunglah karena kami tidak sekelas.
Akan tetapi keberuntunganku tidak bertahan lama. Ketika kenaikan kelas
diumumkan, aku terkejut karena kami berada dikelas yang sama. Kelas 3-1. Aku
memilih tempat duduk sejauh mungkin darinya untuk menghindari kontak dengannya.
2 bulan berlalu sudah semenjak aku menempati bangku di kelas 3 ini. Aku bisa
merasakan Souta yang dulu telah berubah. Ia tidak lagi suka bermain-main dengan
perempuan. Ia terlihat lebih rajin. Tapi aku tetap belum bisa melupakan
kejadian Miruka dan hatiku pun belum berubah, aku masih menyukainya.
***
Malam ini hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Aku memandang
keluar jendela kamarku dan mengikuti arah titik-titik air yang berjatuhan ke
bumi. Malam ini seperti waktu Miruka datang kerumahku, aku merasa hampa. Entah
sampai kapan aku menjadi pecundang hanya karena sahabatku. Aku tidak bisa
mengakui perasaanku sendiri kepada orang yang aku sukai karena sahabatku adalah
mantan pacarnya.
Bel rumahku berbunyi terus menerus tak henti-hentinya. Aku menghampiri dan
membuka pintu rumahku dan berharap itu bukan Miruka.
“Ka, Kazuo? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” ternyata yang
bertamu adalah tetanggaku Kazuo. Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi negri.
Ia berbeda hanya 1 tahun denganku. Konyol sekali aku sempat berfikir semoga
yang datang bukanlah Miruka. Rasanya ingin aku menertawakan diriku.
“mm..Ke-ke..keiko...” ucapnya terbata-bata.
“ada apa Kazuo? Katakan saja. Aku kan temanmu.” Kataku sambil menyunggingkan
senyum dengan mataku yang disipitkan.
“a-aku...aku hanya ingin minta gula. Aku ingin membuat teh
tapi ibuku sepertinya kehabisan gula. Hehe.” Gaya Kazuo kaku sekali. Tapi aku
tidak menghiraukannya. Aku langsung mengajaknya masuk dan mengambilkan toples
kaca berisi gula seperti yang ia pinta.
“t-terimakasih Keiko, nanti aku segera kembalikan.”
“ya, tidak apa-apa” ujarku terkekeh.
Kazuo memang orang yang unik. Bahasa tubuhnya membuatku tertawa. Ia bukan tipe
yang suka melucu, tetapi perilakunya sungguh membuatku terhibur. Aku selalu
tertawa geli jika melihatnya. Ia pria yang sangat baik dan berhati mulia. Aku
mengenalnya sejak pindah kerumah ini 5 tahun lalu. Sebagai tetangga yang
kedatangan penghuni rumah baru, ia membantuku mengangkat barang-barang.
Sejak saat itu kami mulai akrab dan berteman. Aku sering sekali berkunjung
kerumahnya untuk bermain bersama. Orangtua kami bahkan sempat berfikir untuk
menjodohkan kami, tetapi aku dan Kazuo menolaknya sehingga batal lah rencana
perjodohan tersebut dan aku sangat lega.
Keesokan harinya aku melangkahkan kakiku dengan semangat untuk pergi ke
sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Kazuo di tengah jalan. Aku mendekatinya dan
mengagetkannya. Aku menepuk bahunya agak kencang dan berkata nyaring.
“HAAAIIII Kazuoooo! Selamat pagi! Hehe.”
Ekspresinya lucu sekali. Aku hampir mati tertawa saat melihat wajahnya yang
terkejut bukan main. Kazuo mengelus-elus dadanya lalu menarik nafas untuk
berbicara. “Keiko, aku benar-benar kaget. Kau itu keterlaluan! Jantungku
rasanya mau copot, kau tau?”
Aku masih tertawa geli sambil berusaha menahan tawaku untuk berhenti. “maaf
maaf hehe habisnya kau lucu sih, aku jadi ga tahan ingin menggodamu terus.”
Kazuo memalingkan wajahnya, ia mempercepat langkahnya dan melambaikan tangannya
tanpa menengok kearahku. “maaf Keiko, aku duluan ya.”
***
Lagi-lagi Souta menghampiri ku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak
menggubris setiap perkataan yang keluar dari bibirnya.
“Keiko, aku ingin bicara denganmu sebentar. Aku mohon..” ucapnya dengan muka
memelas. Baiklah, mungkin sekali ini aku akan mendengarkannya. Setelah itu aku
tidak mau lagi berurusan dengannya.
Souta mengajakku ke sebuah taman. Taman yang indah dan
sangat terkenal ketika musim semi menyambut. Taman Maruyama terletak di daerah
Kyoto. Taman ini dipenuhi oleh bunga ceri yang bermekaran dan berwarna pink.
Sungguh menyejukan mata dan hatiku. Baunya begitu harum, seperti
menghipnotisku.
Souta pun membuka pembicaraan. “Keiko, apa kau tau yang sedang ku pikirkan
sekarang?” tanyanya dengan nada serius.
Laki-laki aneh pikirku. Mana mungkin aku tau! “tidak. Kalau pun kau ingin
mengatakannya aku tidak ingin tau.” Balasku cuek.
Souta tertawa masam. “kau memang beda dari yang lain. Dirimu yang seperti ini
lah yang membuatku tertarik.” Kini ia menatapku, ia memandangi bola mataku yang
berwarna coklat.
Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya yang membuatku luluh.
“sudahlah, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari tempat itu tapi Souta
menghentikanku. Ia menarik tanganku dengan tegas sehingga aku kembali dalam
posisi duduk. Pria itu mengunci tanganku. Ia menggenggamnya sangat erat dan
membuatku tak dapat bergerak.
“aku tidak berbohong! Aku menyukaimu Keiko...dan aku tau kau juga mempunyai
perasaan yang sama denganku.” Souta mengatakannya dengan lancar. Apa selama ini
dia tau kalau aku menyukainya? Aku tidak tau harus senang atau sedih. Mendengar
pengakuan cintanya, tak bisa kupungkiri hatiku meloncat kegirangan. Aku hanya
diam tak membalas ucapannya.
“aku telah berubah sejak pertama kali mengenalmu Keiko. Kau tidak perlu takut
aku akan memperlakukanmu seperti yang kulakukan kepada temanmu Miruka.” Hati
yang penuh luapan kebahagiaan berubah menjadi kemarahan. Kata-katanya menyakiti
hati sahabatku seolah Miruka tak ada artinya sama sekali bagi dia.
“jangan sebut nama Miruka seakan-akan ia tak berarti apa-apa untuk dirimu. Biar
bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kenapa dulu kau
menghianatinya?” amarahku terhadap Souta semakin memuncak sehingga aku tidak
dapat berteriak dan melampiaskannya. Hanya suaraku yang terdengar rendah dan
dingin.
“semua aku lakukan hanya untukmu.” Katanya.
Tubuhku gemetar. Aku sangat bingung. Apa aku berani menerimanya? “tolong
tinggalkan aku sendiri Sou. Aku butuh waktu untuk berfikir.”
***
3 tahun kemudian....
Setelah pengakuan Souta, aku merasa aku tidak akan sanggup hidup di Jepang jika
selalu bertemu denganya. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Inggris dan
tinggal disana bersama Bibiku, Rose. Tadinya kedua orangtuaku tidak
mengizinkannya, tapi aku terus merengek dan terpaksa mereka pun mengizinkan aku
untuk pergi. 3 tahun aku lalui tanpa hadirnya Souta. Aku cukup bahagia tinggal
disini. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di
sebuah universitas terkenal yaitu Oxford University.
“Keiko, ada seseorang yang mencarimu.” Sahut Bibi Rose dari lantai bawah.
“alright, wait a second.” Balasku
dengan nyaring.
Aku sungguh terkejut saat mendapati orang yang mencariku. Kazuo?! Bagaimana bisa ia tau tempat tinggal Bibi
Rose? Dan untuk apa dia kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di
otakku. Benar-benar sebuah surprise yang
tak terduga.
Aku memperhatikan Kazuo dari kepala hingga ujung kaki. Ia terlihat berbeda
dengan ia yang dulu. Kazuo bertambah tampan! Namun, sorot matanya...seperti
berbeda. Aku bergidik menatap sorot mata itu.
“hai, Keiko. Lama sekali kita tidak berjumpa.” Nada suaranya kini terdengar
riang dan tidak kaku seperti dulu. Kazuo benar-benar berubah semakin dewasa.
Aku mempersilahkannya masuk dan kami duduk diruang tamu. “aku senang sekali
bertemu denganmu. Apa yang membawamu kemari? Aku penasaran.” Ujarku yang
diakhiri dengan seulas senyum manis.
“apa kau tidak mengenalinya Keiko?” nada bicara Kazuo mendadak serius.
Aku mengernyitkan dahi. “apa maksudmu? Mengenalinya?”
“mata ini...apa kau sudah melupakannya?” katanya yg menyuruhku untuk menebak.
Aku tidak mengerti dengan ucapan Kazuo. Apa yang terjadi? Ia tidak hanya
berubah menjadi semakin tampan dan dewasa, tapi juga misterius.
“katakan padaku yang sebenarnya Kazuo!” pintaku dengan sedikit memaksa. Aku
sangat penasaran. Pasti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar...ya sesuatu
yang tidak ingin kudengar.
***
Aku tidak percaya dengan ceritanya! Tidak mungkin itu
terjadi! Souta mendonorkan korneanya untuk Kazuo yang tertimpa kecelakaan dan
kehilangan penglihatannya. Apa maksud Souta seperti itu? kenapa ia harus pergi
dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia juga
memiliki penyakit kanker yang kronis?! Kau
sungguh egois Sou! Kau ingin bertemu denganku dengan cara hidup pada mata
Kazuo. Aku tidak bisa menahan tangisku. Saat aku berziarah ke pemakaman
Souta, aku melihat seseorang ada disana lebih dahulu.
“orang itu...” gumamku yang menahan isak tangis.
“sudah lama sekali ya, Keiko...” sapanya lembut. Tampaknya ia juga sedang
menangisi nisan Souta. Aku terkejut bisa bertemu lagi dengannya, terlebih
ditempat seperti ini.
“kita mencintai orang yang sama dan menangisinya juga bersama-sama. Ironis
sekali bukan hidup ini?”
“tidak. Dari awal Souta hanya menyukaiku, bukan dirimu Miruka. Dan kepergiannya
tidak ada hubungannya dengan hidupku atau hidupmu. Kita menjalani hidup yang
berbeda. Dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu, tapi baru sekarang aku bisa
mengucapkannya. Aku sangat lega karna aku tidak lagi menjadi pecundang.”
“aku senang kau bertambah dewasa. Sudahlah, tak ada gunanya kita bertengkar.
Lagipula, besok aku akan melangsungkan pertunanganku dengan pria yang kucintai.
Aku harap kau dan Kazuo bisa menghadirinya.”
“aku pasti datang.”
Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya yang ku inginkan adalah Kazuo. Cintaku
memang untuk Souta, tapi sejak dulu yang ada untukku selalu adalah Kazuo. Dari
awal, hanya Kazuo lah yang berada disisiku. Tapi aku tidak mungkin bisa
melupakan orang yang ku cintai. Sebuah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Lagipula, Souta...kau bisa selalu melihatku
melalui Kazuo, bukan? Ucapku dalam hati. Aku tersenyum cerah menatap langit
dan berharap kau mendengar yang kukatakan Sou.
***
“Souta Hakazami!! Cepat habiskan makananmu! Atau ibu akan marah besar.”
“iya, iya...Ibu cerewet sekali sih.”
“Kazuo, sebaiknya kau ajarkan Souta untuk bersikap disiplin!”
“jangan marah-marah terus nanti kau keriput Keiko. Bukankah Souta mengambil
sifat seperti itu dari Ibunya? Hehe..”
“Kazuo kau mati hah?!”
Kehidupanku berubah drastis. Keluargaku dengan Kazuo adalah nafas kehidupan
bagiku. Aku sangat bahagia menjalaninya. Kami memiliki seorang anak yang ku
namai sama seperti dia, “Souta”, sebagai sebuah kenangan dan agar aku dapat
selalu mengingatmu.... aku yakin kau pasti tertawa geli diatas sana melihat
kelakuan Souta kecil-ku..
Aku sangat bertrimakasih padamu Sou...
Tanpa pengorbananmu, tidak mungkin aku bisa merasakan kebahagian yang luar
biasa seperti ini...
The sweetest thought..
I had it all,
Cause I did let you go..
All our moments,
Keep me warm..
When you're gone....
(Within Temptation – Bittersweet)
I had it all,
Cause I did let you go..
All our moments,
Keep me warm..
When you're gone....
(Within Temptation – Bittersweet)
END
You have just read an article that category by title THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES. You can bookmark this page with a URL https://asoerimba.blogspot.com/2012/07/theres-something-in-your-eyes.html. Thanks!
Ditulis oleh:
Unknown - Minggu, 29 Juli 2012
Belum ada komentar untuk "THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES"
Posting Komentar